Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Mulai hari ini kami akan berbagi kisah perjalanan Ustad Ali Hudaibi, MA. Beliau adalah Dosen Darus Sunnah dan juga Imam di Masjid UIN Jakarta. Beliau juga mengajar tentang hadis di Masjid Al Ikhlas dalam kajian kuliah subuh beberapa kali dalam sebulan. Saat ini beliau sedang mengisi kegiatan ramadhan di Canada dan kami akan membagikan kisah selama beliau berada di sana. Semoga kita bisa mendapatkan hikmah positif dan wawasan mengenai budaya di Canada, terutama selama bulan ramadhan.
SAFAR ITU BAGIAN DARI SIKSA (24/05/2017)
Alhamdulillah, setelah kurang lebih 30 jam perjalanan udara-plus transit-kami sampai juga ke kota Toronto – Canada dengan selamat tanpa suatu apapun.
Perjalanan ke kota ini dalam rangka memenuhi undangan Ramadhan dari salah satu pusat studi Islam terbaik di kota ini, yaitu Sayeda Khadija Centre yang beralamat di 7150 Edwards Blvd, Mississauga, ON L5S 1Z1, Ontario, Toronto, Canada.

Perjalanan atau biasa orang mengatakan safari Ramadhan tahun 2017 ini merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya dengan undangan yang sama di tahun 2016.
Dari Jakarta kami berangkat menggunakan jasa pesawat Air China tanggal 24 Mei pukul 00.40 dan transit di Xiamen pukul 08.00 pagi lalu transit lagi di Beijing pukul 12.00. Di Beijing kami transit lumayan lama; 6-7 jam. Setelah itu berganti pesawat Air Canada sampai Toronto pukul 19.00 di tanggal yang sama 24 Mei dengan durasi waktu 12 jam dari Beijing. Waktu Toronto terlambat 12 jam dengan Jakarta.
Ketika sampai di bandara Toronto kami harus melewati pemeriksaan Visa untuk Canada. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan pihak pemeriksa kepada kami:
1. Apa agama Anda?
2. Muslim Sunni atau Syi’ah?
3. Dalam rangka apa Anda ke Canada?
4. Apa pekerjaan Anda di Indonesia?
Setelah semua kami jawab, kami pun diberbolehkan masuk dengan tanpa ada masalah yang berarti. Alhamdulillah.
Di luar bandara kami sudah ditunggu oleh Imam Sayeda Khadija Centre Prof. Dr. Hamid Slimi (pernah menjadi dosen tamu selama tiga bulan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2016 dan pernah membimbing adik-adik kami di Darus Sunnah Internasional Institute for Hadith Seciences selama beliau di sana) dan langsung membawa kami untuk istirahat di Sayeda Khadija Centre.
Memang benar sabda Baginda Nabi, “Safar (perjalanan) itu bagian dari siksa.” Kami merasa sedikit kurang enak badan. Kami pun langsung istirahat hingga pagi subuh setelah perjalanan panjang.
RAMAH TAMAH DENGAN SESEPUH MASYARAKAT ISLAM INDONESIA TORONTO (25/05/2017)
Setelah subuh kami melanjutkan istirahat hingga sore. Kami tidak keluar kamar kecuali untuk mengimami salat maktubah dan menyalami para jamaah sebagai tanda bahwa kami sudah sampai di Toronto memenuhi undangan mereka. Setelah itu kembali untuk istirahat.

Selepas magrib kami mendapat undangan dari salah satu sesepuh MIIT (Masyarakat Islam Indonesia Toronto) untuk beramah tamah di kediaman beliau. Kami pun langsung memenuhi undangan tersebut diantar langsung oleh Imam dan beberapa khadimnya dari Sayeda Khadija Centre. Di sana sudah hadir beberapa warga MIIT.

Kami merasa senang karena merasa di negeri sendiri kala bertemu mereka. Makanan yang dihidangkan pun ala-ala Indonesia. Alhamdulillah.

Benar kata orang tua, jangan pernah takut berhijrah atau berdakwah ke negeri orang meskipun sendiri, karena di sana pasti akan menemukan orang-orang yang ditinggalkan. Maksudnya; kebaikan, petunjuk, perhatian, dan hal-hal positif lainnya akan ditemukan di sana.
TARAWEH PERTAMA DAN TRADISI TADARUS YANG DILESTARIKAN (26/05/2017)
Taraweh dilakukan pada Jumat malam dengan jumlah rakaat 20 plus witir 3 rakaat ala Mazhab Hanafi.
Sebelum mengimami taraweh Imam mengatakan kepada kami agar membaca al-Qur’an setengah juz saja di dalam salat. Setengahnya dilanjut setelah taraweh dengan tadarus bersama.

Rupanya Imam senang dengan tradisi Indonesia ini dan ingin tetap melestarikannya. Saran demikian pernah kami sampaikan pada Ramadhan yang lalu dengan alasan waktu yang sangat pendek antara selesainya taraweh dengan subuh, yaitu hanya 3 jam. Sementara pagi harinya para jamaah harus bekerja dalam keadaan berpuasa selama 17 jam.

Dalam hal ini Rasulullah pernah mengatakan, “Apabila kalian menjadi imam maka ringankanlah.” Maksudnya jangan memberatkan jamaah.
Suatu hari Rasulullah menegur orang yang dicintainya yaitu Sayyidina Mua’dz karena terlalu panjang mengimami salat Isya yang berujung pada ‘demo’ jamaahnya.
Rasulullah mengatakan, ‘Afattanun Anta (apakah kamu ingin menjadi orang yang suka membuat fitnah)? Demikian Rasul menegur Mua’dz.
Apa makna teguran tersebut? Maknanya adalah bahwa menyampaikan kebaikan saja tidak cukup tanpa diiringi dengan pemahaman akan kondisi sekitarnya. Kebaikan bisa berubah menjadi keburukan atau bahasa Rasul menjadi fitnah ketika tidak muqtadhal hal (selaras dengan keadaan).
Apa yang buruk dari Sayidina Mua’dz? Sekilas sebenarnya tidak ada. Justru semakin banyak membaca al-Qur’an semakin baik dan mendapat pahala yang banyak karena setiap hurufnya dikalikan 10 kebaikan. Tapi menjadi buruk ketika tidak sesuai dengan kondisi jamaah. Kecuali bila sebelumnya ada kesepakatan dengan jamaah maka tidak masalah.
Sebagai Imam yang sudah 3 kali berturut-turut mendapat penghargaan salah satu di antara 500 orang berpengaruh di dunia dan sudah puluhan tahun tinggal di Canada tentu beliau sangat mengerti keadaan jamaahnya. Keputusan tersebut menurut kami sangat tepat karena melihat kompleknya kebutuhan jamaah.
QARI 9 TAHUN YANG HAFAL 30 JUZ (27/05/2017)
Kami berangkat dari Indonesia sendiri. Di sini, selain ditemani Imam Sayeda Khadija Centre, kami juga dibantu oleh seorang Qari peranakan Pakistan bernama Musa yang sudah hafal 30 Juz di usianya yang masih 9 tahun. Selain hafal 30 Juz, ia juga diberi anugerah suara yang indah dan bacaan yang fasih. Subhanallah.
Al-Qur’an itu indah dan bertambah keindahannya ketika disampaikan dengan cara yang indah; salah satunya dengan suara yang indah. Membaca al-Quran dengan suara yang indah adalah perintah Nabi. Bila keindahan itu menjadi sesuatu yang penting, maka mempelajarinya juga adalah keniscayaan.
Terkadang melalui suara indah seseorang mendapat hidayah. Sebaliknya, seseorang menjadi malas beribadah karena mendengar suara yang tidak indah. Ini salah satu utamanya estetika dalam membaca al-Qur’an yang penting dipelajari.
Membaca al-Quran dengan suara indah bukanlah suatu ketakabburan, karena takabbur adalah perasaan diri lebih baik dari orang lain atau meremehkan dan memandang rendah mereka (ghamth an-nas) atau enggan diberi nasehat (bathar al-haqq) ketika melakukan kesalahan karena merasa lebih baik tadi.
Keindahan itu datangnya dari Allah. Bila seseorang mengetahui bahwa Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan, maka ia pun akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan sesuatu yang indah untuk-Nya. InsyaAllah, dengan tetap menjaga hati dari penyakit riya’, ujub, takabbur, dan sebagainya.
— BERSAMBUNG —