Mutiara Ramadhan – Azhan di Kanada

Seperti pada postingan sebelumnya, berikut adalah lanjutan mutiara ramadhan dari perjalanan Ustad Ali Hudaibi di Toronto, Canada.

AZAN HANYA TERDENGAR DI DALAM MASJID (29/05/2017)


Kanada termasuk negara yang sangat terbuka dengan Islam dibanding Amerika. Meski bersebelahan, secara politik kedua negara tersebut sebenarnya saling bersaing. 

Konon, negara pertama yang menerima ribuan pengungsi muslim dari Amerika pasca runtuhnya menara kembar WTC (World Trade Center) 11 September 2001 di New York atau dikenal dengan tragedi 9/11 itu adalah Kanada.

Kaum muslimin di sini mendapat perlindungan sangat baik dari negara. Bila kita berjalan-jalan di mall, atau di pasar misalnya, maka setiap 3-5 menit sekali kita akan melihat muslim yang memakai peci dan muslimat yang memakai kerudung. 

Mereka aman menggunakan atribut keislaman apa saja di sini. Siapa yang menggangu mereka, maka siap-siap menempati tempatnya di jeruji besi.

Dengan banyaknya imigran muslim ke Kanada, maka Islam pun secara pesat berkembang dengan baik di sini. Terbukti dengan banyaknya masjid yang sudah tidak lagi bisa menampung jamaah.

Di Toronto misalnya, dengan jumlah masjid yang hanya 20 buah atau lebih sedikit, ketika tiba hari Jumat, mereka harus mengantri 2 sampai 3 kali salat jumat baru bisa mendirikannya. Ini tanda bahwa perkembangan Islam di sini sangat pesat.

Apakah 3 kali pelaksanaan salat Jumat itu waktunya cukup? Sangat cukup, karena waktu Zuhur ke Asar di sini sangat lama, yaitu sekitar 6 jam atau 3 jam lebih lama dibanding di Indonesia.

Ada hal menarik dari warga non muslim Kanada, ini mungkin saking terbukanya, yakni setiap Ramadan tiba ada sebagian pejabat non muslim yang ikut berpuasa.

Mereka beralasan bahwa puasa itu sesuatu yang universal dan banyak manfaatnya. Mereka pernah ikut buka bersama bersama kami di Sayeda Khadija Centre dan mengatakan bahwa mereka pun sahur untuk berpuasa. MasyaAllah.

Kami hanya berdoa semoga mereka mendapat hidayah Islam, lalu senang dengan ajaran Islam, dan bisa berjuang untuk kemuliaan Islam.

Hanya, ada satu yang kami perhatikan selama beberapa hari di sini, yaitu ketika tiba waktu azan, masjid-masjid di sini tidak diperkenankan melantunkan azan hingga terdengar ke luar masjid, cukup terdengar di dalam saja.

Ketika kami tanyakan, kenapa tidak diperkenankan keluar? Jawaban mereka, agar tidak menganggu dan tetap menjaga ketertiban.

Lalu dari mana mereka tahu bahwa waktu salat sudah masuk? Mereka mengetahuinya dari jadwal salat yang sudah disusun rapih oleh Sayeda Khadija Centre lengkap dengan waktu iqamatnya. 

Kami hanya berdoa semoga azan yang menjadi syiar Islam ini kedepannya bisa diperbolehkan untuk diperdengarkan hingga ke luar masjid dan tidak dinilai sebagai sesuatu yang mengganggu atau merusak ketertiban, juga berharap menjadi syiar bagi siapa saja yang mendengarnya.

TRADISI SALAMAN (30/05/2017)

Ada hal menarik yang kami perhatikan dari kebiasaan jamaah Sayeda Khadija Centre khususnya di waktu-waktu sebelum dan setelah salat berjamaah, yaitu saling bersalaman antara satu dengan lainnya.

Tidak hanya bersalaman tapi juga saling mengawali dengan Assalamu’alaikum sembari menanyakan kabar how are you dengan mimik muka berseri. Tak jarang bahkan saling merangkul seolah baru pertama kali bertemu. Hal itu dilakukan setiap hari khususnya ketika hendak salat berjamaah dan setelahnya. 

Kami sendiri mungkin ratusan kali disalami jamaah setiap harinya. Padahal baru saja tadi bertemu sekarang sudah disalami lagi. Sesuatu yang jarang kami temukan di negeri sendiri.

Bagi kami itu sangat indah, betul sangat indah. Salaman itu menghilangkan penyakit dengki, ujub, takabbur, dan menumbuhkan kasih sayang serta semangat persaudaraan. Selain tentu menghapus kesalahan pelakunya sebagaimana sabda Baginda Nabi.

Sesuatu yang baik bila ajaran salaman tersebut menjadi tradisi yang tidak bosan-bosannya dilakukan. Keberkahan akan terus mengalir ketika kebaikan itu terus menerus dilakukan.

Kalau ada seorang tokoh, maka anak-anak di sini diperintah orang tuanya agar cepat-cepat menyalami tokoh tersebut. Hanya tradisi salaman anak kecil di sini tidak seperti tradisi salaman anak kecil di Indonesia. Atau salaman seorang murid ke guru di sini tidak seperti salaman seorang murid ke guru di Indonesia. Kalau di Indonesia anak kecil atau murid salaman dengan orang tua atau guru atau tokoh pasti dicium tangannya. Di sini kami tidak menemukannya.

Salaman itu ajaran Islam. Meski terlihat simple tapi menyimpan nilai yang sangat dalam. Salah satunya memperkokoh persudaraan atau silaturrahim.

Islam akan jaya manakala kaum muslimin kuat, Islam akan kuat manakala kaum muslimin bersatu, dan Islam akan bersatu manakala kaum muslimin saling menjaga silaturrahim.

MENYAMBUT TA’JIL DENGAN TA’LIM (31/05/2017)


Satu jam sebelum magrib jamaah sudah memenuhi masjid Sayeda Khadija Centre menunggu ta’jil kemudian dilanjut dengan jamaah salat magrib. 

Sambil menunggu atau i’tikaf ada yang sibuk membaca Al-Quran, melantunkan zikir, mengajari anak-anaknya baca tulis al-Qur’an, dan sebagainya. 

Sesekali, Sayeda Khadija Centre juga menghadirkan para tokoh atau guru untuk memberikan ta’lim sebelum ta’jil.

Tradisi ini berlaku juga di Indonesia.

Hanya yang kami kagum di sini adalah kekompakkan para khadim Sayeda Khadija Centre dalam menghormati jamaahnya.

Untuk ta’jil pertama semua jamaah hanya diberikan kurma dan air putih saja. Mereka kompak karena setelah memberi ta’jil kepada ratusan jamaah itu tidak terlihat satu kotoran pun terjatuh di karpet setelahnya. Mereka bergegas keliling membersihkan. Dan benar-benar bersih beriringan dengan selesainya azan dikumandangkan.

Selesai azan, Imam memberi kesempatan kepada jamaah untuk berdoa, karena sebagaimana diketahui bahwa doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidak tertolak. Rasulullah bersabda: “Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak: 1. Pemimpin yang adil. 2. Orang yang berpuasa ketika berbuka. 3. Orang yang teraniaya.”

Selepas magrib dengan tertib para jamaah memasuki ruangan khusus untuk menyempurnakan ta’jilnya dengan buka bersama yang sudah disiapkan Sayeda Khadija Centre. 

Adapun kami menemani seorang tokoh yang didatangkan Sayeda Khadija Centre, yaitu Shaikh Zahir Bacchus, beliau Imam & direktur Jamiat-ul-Ansar di Brampton di ruangan yang sudah disiapkan selepas beliau mengisi ta’lim untuk jamaah Sayeda Khadija Centre. Semoga berkah.


BERSAMBUNG ….

Diterbitkan oleh wisnuwidiarta

Hi, my name is Wisnu Widiarta. I am a movie lover and love traveling especially camping and doing outdoor activities. Coding and problem solving in general are things I love as well.

Tinggalkan komentar