Diceritakan oleh Ustad Ali Hudaibi dalam safari ramadan ke Toronton, Canada.
Suatu malam selepas mengimami salat Isya, tidak biasanya Imam berdoa yang isinya tentang adab dan akhlak. Inti dari doa tersebut adalah permohonan agar Allah berkenan membaguskan akhlak-akhlak kita, akhlak anak cucu kita, akhlak murid-murid kita, dan seterusnya.
Selama kami bertugas, kami tidak pernah mendengar doa tersebut. Kami menduga bahwa telah terjadi sesuatu pada beliau. Ternyata benar dugaan kami, selepas doa beliau bercerita, bahwa beliau telah diundang dalam buka puasa bersama di suatu tempat, dimana hadir juga di sana para imam dan tokoh masyarakat.
Ketika sedang khusuk menunggu waktu buka, tiba-tiba terdengar suara teriakkan dari belakang, ‘azan..azan..ayookk azan sudah masuk waktunya nihhh, dengan suara sangat lantang.’ Padahal semua tahu waktu azan belum masuk. Tapi ia terus mengulangi teriakkannya tanpa mengindahkan hadirnya para tokoh di sana.
Kejadian seperti ini tentu tidak elok bila terjadi pada orang yang mengeyam pendidikkan. Kalau pun benar sudah masuk waktu Magrib atau waktu buka puasa, tak perlu pula teriak-teriak.
Teringat satu hadis riwayat Imam al-Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Dua hal yang tidak akan terkumpul dalam diri orang munafik; perangai yang baik (husnu samtin) dan pemahaman terhadap agama (fiqhun fi al-Din).” (HR. al-Tirmidzi).
Tulisan ini bukan dalam rangka atau sedang menuduh siapapun, tapi sebagai pengingat bahwa adab atau akhlak itu sangat penting dan perlu dimiliki serta dilakukan oleh setiap orang.
Kita bisa meneladani bagaimana misalnya para sahabat tidak meninggikan suara ketika sedang berbicara dengan Rasulullah. Ketika bertemu, mereka mencium tangan Rasulullah dengan tawadhu. Ketika berjalan, mereka tidak berjalan di depan Rasulullah.
Dari sini kemudian Imam Malik berkata: “Adab harus didahulukan dari ilmu. Karena adab inilah yang membuat seorang murid mudah menerima ilmu dari guru-gurunya. Selain itu, adab akan membuat orang yang berilmu semakin harum wanginya.”
Sebagai bagian dari pengamalan atas nasihatnya tersebut, Imam Malik senantiasa membuka sandalnya ketika memasuki kota Madinah. Para murid bertanya, “Wahai Imam, apakah yang membuatmu melepas sandal ketika memasuki kota Madinah?”
Beliau menjawab, “Bagaimana mungkin aku mengenakan sandal saat menjejakkan kaki di bumi yang di dalamnya bersemayam jasad manusia paling mulia, Nabi Agung Panutan Semesta, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam?”
BERSAMBUNG …