Sejarah dan Keteladanan Rasulullah

Dalam menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW, mari kita mengingat kembali sejarah kelahiran dan sifat-sifat beliau yang mulia.

Latar Belakang Bangsa Arab Pra-Islam

Bangsa Arab pada masa Jahiliyah hidup dalam kekacauan moral dan sosial. Mereka terbagi dalam suku-suku bersaing tanpa pemerintahan pusat yang tegak; siapa kuat berkuasa, yang lemah tertindas . Kepercayaan mereka rancu: mayoritas menyembah berhala dan turut meremehkan hak asasi (termasuk penganiayaan perempuan, pembuangan bayi) . Makkah sendiri berkembang sebagai pusat ekonomi dan keagamaan internasional karena posisinya di jalur dagang antara Syam dan Yaman . Ketenteraman politik hanya berlaku antar-anggota satu suku saja . Kondisi inilah yang Allah ubah dengan kedatangan Islam. Menjelang kelahiran Nabi, Ka’bah sempat diserang pasukan Habasyah pimpinan Abrahah (Perang Pasukan Bergajah), peristiwa yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai tanda kebesaran Tuhan .

Garis Keturunan dan Kelahiran Rasulullah SAW

Muhammad bin Abdullah lahir pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah (sekitar 570 M) . Ia berasal dari keluarga terhormat Bani Hasyim (suku Quraisy) yang dipercaya menjaga Ka’bah; leluhurnya sampai pada Nabi Ismail bin Ibrahim a.s. . Namanya diabadikan sebagai “Rasulullah” setelah kelak diangkat menjadi Nabi. Tahun kelahirannya disebut Tahun Gajah karena serangan pasukan bergajah ke Makkah, yang Allah hancurkan dengan burung Ababil sebagaimana dijelaskan QS Al-Fiil: “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah berbuat kepada pasukan bergajah? Dia menjadikan tipu daya mereka sia-sia…” . Ayah beliau (Abdullah) wafat sebelum beliau lahir, menjadikan Muhammad SAW yatim sejak lahir .

Masa Kanak-kanak Rasulullah SAW

Saat lahir, Rasulullah SAW disusui oleh Halimah binti Sa’diyah (badui dari Bani Sa’d). Ia tinggal di perkampungan Halimah beberapa tahun, bahkan lebih lama dari seharusnya karena Halimah merasa keluarganya berkah semenjak mengasuhnya . Ketika usianya sekitar 6 tahun, ibunya Aminah binti Wahab wafat ketika pulang menziarahi makam keluarga di Abwa’ . Muhammad kecil pun kembali ke Makkah bersama pengasuhnya Ummu Aiman. Selanjutnya kakek beliau, Abdul Muthalib, merawat dan membimbingnya . Dua tahun kemudian kakek tercinta itu wafat, lalu Rasulullah diasuh oleh pamannya, Abu Talib bin Abdul Muthalib, sesuai wasiat kakek . Dengan demikian beliau menjadi yatim piatu sejak usia delapan tahun, terus tumbuh di tengah kasih sayang keluarga terpandang yang menjadikannya tegar namun rendah hati.

Kejujuran (Al-Amin)

Sejak kecil Rasulullah SAW terkenal jujur dan tepercaya, sehingga mendapat gelar “Al-Amin” (yang terpuji dan dapat dipercaya) . Akhlak ini sesuai dengan firman Allah bahwa pada diri Rasulullah sudah ada suri tauladan yang baik bagi orang beriman . Beliau konsisten berkata benar dan menjalankan amanah. Dalam sebuah hadits beliau bersabda, “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan… dan kebaikan membawa ke surga…” . Dengan sabdanya ini, Nabi mengajarkan bahwa kejujuran adalah jalan menuju kebaikan dan rahmat Allah. Sikap jujur Rasulullah meluluhkan hati para pendosa; orang-orang yang meminta petunjuk pun terinspirasi oleh keteladanan beliau.

Kesabaran

Rasulullah SAW menunjukkan kesabaran luar biasa di kala ujian dan kesulitan. Al-Qur’an memerintahkan orang beriman: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat penolongmu; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” . Dalam dakwah, beliau bersabar menghadapi celaan dan tantangan kaum Quraisy selama bertahun-tahun tanpa balas kebencian. Beliau pun menahan amarah ketika difitnah ataupun disiksa. Dari Abu Hurairah diriwayatkan: “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” . Demikianlah Rasulullah mencontohkan bahwa kekuatan yang sesungguhnya adalah menahan diri. Satu hadits lain menyebutkan pahalanya: “Sabar ketika tertimpa musibah (diganjar) dengan sembilan ratus derajat.” . Ini mengingatkan umat Islam bahwa kesabaran Nabi SAW membawa ganjaran yang sangat besar dari Allah.

Kelembutan dan Kasih Sayang

Rasulullah SAW amat lemah lembut terhadap semua makhluk. Allah menyukai sikap lembut: “Barang siapa dijauhkan dari sifat lemah lembut, berarti ia dijauhkan dari kebaikan.” . Beliau tidak pernah kasar; Aisyah ra. meriwayatkan bahwa suaminya adalah orang paling mulia akhlaknya, pemaaf dan penuh kasih . Keletah lembut beliau tampak saat bersama anak-anak dan keluarganya; saat marah sekali pun, beliau tidak menyakiti siapapun. Kehadiran Rasulullah di tengah kesulitan (misalnya dikucilkan di Ta’if atau dilontar batu) selalu disertai doa dan kelembutan bagi mereka yang menyakitinya. Dengan kesejukannya, beliau menebar kasih sayang tanpa membeda-bedakan latar belakang.

Keberanian

Meski lembut, Rasulullah SAW juga berani tanpa tanding. Dalam perang Badar dan Uhud, beliau selalu di barisan depan mendekati musuh serta menjadi pelindung para sahabat. Ali bin Abi Thalib ra. menggambarkan betapa berat posisi Rasulullah di medan perang: “Kami berlindung pada beliau; beliau adalah yang paling dekat dengan musuh dan banyak ditimpa kesulitan” . Anas bin Malik ra. juga bersaksi bahwa Nabi SAW adalah “orang yang paling berbudi tinggi… dan pemberani.” . Di tengah sengitnya perang, beliau bahkan berani menerobos barisan musuh sambil menyeru nama Rasulullah, menegaskan jati diri beliau sebagai Nabi putra Abdul Muthalib tanpa rasa gentar. Keberanian beliau semata-mata karena keyakinan pada kebenaran risalah yang dibawanya.

Kepemimpinan

Rasulullah SAW memimpin umat dengan teladan keadilan dan syura (musyawarah). Allah memerintahkan: “Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan (taatilah) orang-orang yang berwenang di antara kamu…” (QS An-Nisa’ 4:59) . Nabi mewujudkan perintah ini dengan memberi teladan dalam setiap keputusan. Dalam mensiasati kemasyarakatan Madinah, beliau mendirikan pemerintahan yang menerapkan hukum-hukum Allah secara adil bagi semua golongan. Ia melibatkan para sahabat dalam pengambilan keputusan penting (misalnya pemilihan panglima perang atau pembagian harta rampasan), sehingga komunitas tetap bersatu. Ketika akhirnya menaklukkan Makkah, beliau memimpin umatnya dengan kejujuran (memenuhi janji perjanjian) dan memaafkan orang-orang yang pernah menentangnya. Sikap pemimpinnya yang berlandaskan kebenaran telah memenuhi ajaran Al-Qur’an agar mengabdi kepada Allah dan rasul serta berlaku adil dalam kekuasaan.

Kesederhanaan

Kehidupan Rasulullah SAW sangat sederhana. Ia bersikap zuhud: tinggal di rumah yang sederhana, bertelanjang kaki jika perlu, bahkan menambal gelasnya sendiri saat pecah . Dalam makanan, beliau cukup menerima rezeki seadanya. Suatu kali Rasulullah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya.” . Beliau selalu mengingatkan bahwa keamanan diri, kesehatan badan, dan terpenuhinya makanan sehari-hari sudah merupakan nikmat yang luar biasa: “Barangsiapa bangun pagi hari dalam keadaan aman diri dan sehat badan, serta ia mempunyai makanan untuk hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia telah dihisapkan untuknya.” . Bahkan Rasulullah SAW hampir tidak pernah merasa kenyang kecuali ketika sedang menjamu tamu . Kesederhanaan ini menjadikan beliau tidak terikat oleh harta; sepeninggalnya, beliau tidak meninggalkan warisan harta material.

Toleransi dan Keadilan

Rasulullah SAW senantiasa berlaku adil dan penuh toleransi. Allah menegaskan: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam agama…” (QS Al-Mumtahanah 60:8) . Prinsip ini ditegakkan Rasulullah, misalnya dalam Piagam Madinah yang menjamin kebebasan beragama bagi Muslim, Yahudi, dan umat lain selama mereka hidup damai. Beliau juga menegakkan keadilan: QS Al-Maidah 5:8 memerintahkan menjadi saksi adil “walaupun terhadap diri sendiri atau kepada kerabat” . Nabi SAW menerapkan ini dengan setia: ia tidak tunduk pada kekuasaan berdasarkan status sosial; ia memerintahkan agar pemimpin bertindak adil dan amanah. Nabi bahkan mencontohkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari: Jibril terus-menerus mengingatkannya untuk berbuat baik kepada tetangga, termasuk non-Muslim, “hingga aku mengira beliau akan mewariskannya” . Dalam perselisihan, beliau menghormati orang berbeda keyakinan sepanjang tidak mengganggu perdamaian.

Akhlak dalam Rumah Tangga

Sebagai suami dan kepala keluarga, Rasulullah SAW berperilaku penuh kasih sayang. Beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku.” . Beliau lembut pada istri-istrinya; tidak pernah kasar dan senantiasa menghormati hak-hak mereka. Al-Qur’an menegaskan: “Bergaullah dengan istri-istrimu secara patut…” , dan Rasulullah bersabda: “Berbuat baiklah terhadap wanita.” . Beliau juga sangat menyayangi anak-anak. Dalam sabdanya: “Siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” . Ia sering bercanda dan bermain dengan putra-putrinya, mengajarkan akhlak mulia tanpa memarahi secara kejam. Keadilan beliau juga terlihat dalam membagikan nafkah keluarga secara adil dan tidak memanfaatkan istri maupun anak.

Akhlak dalam Berdakwah

Dalam menyampaikan Islam, Rasulullah SAW selalu berpegang pada hikmah dan keluhuran akhlak. Al-Qur’an memerintahkan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” . Beliau mencontohkan ini dengan tutur kata yang santun; beliau tidak menghina kepercayaan lawan bicara, tetapi mengajak berpikir. Pendekatannya selalu lemah lembut dan mengacu pada akal sehat. Saat menghadapi penentang, beliau berdakwah dengan sabar dan musyawarah, tidak memaksa apalagi menganiaya. Itulah sebabnya banyak generasi berikutnya menyebut metode dakwah beliau sebagai tabligh: memberi nasihat bijak tanpa kekerasan.

Akhlak terhadap Anak-anak, Wanita, Orang Miskin, dan Non-Muslim

Rasulullah SAW sangat menghormati kelompok lemah dalam masyarakat. Ia senantiasa menyayangi anak-anak; beliau memakaikan Al-Qur’an kepada cucunya setelah shalat dan memeluk mereka dengan kasih. Ia juga sangat peduli kepada perempuan: beliau memberi contoh bahwa suami harus menghargai dan memuliakan istrinya . Terhadap orang miskin dan fakir, beliau perintahkan sedekah dan rawat yatim; beliau sendiri kerap membagi makanan seadanya kepada yang membutuhkan. Dalam hal orang non-Muslim yang hidup berdampingan, beliau adil dan penuh hormat sebagaimana diperintahkan Allah: “Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” . Ia melarang umatnya mengganggu keyakinan orang lain, selama mereka tidak memerangi umat Islam. Dengan demikian, akhlak Rasulullah SAW dalam keluarganya dan masyarakat luas senantiasa memancarkan rahmat universal, mempersatukan masyarakat tanpa melihat perbedaan suku atau agama.

Keterangan: Semua informasi di atas didasarkan riwayat sejarah sahih dan ayat-hadits yang dikutip. Misalnya, kejujuran beliau ditegaskan oleh gelar Al-Amin dan hadits tentang kebenaran ; kebijaksanaan dakwah beliau diperintahkan dalam QS An-Nahl ayat 125 ; akhlak terhadap keluarga dan wanita ditegaskan hadits dan ayat Al-Qur’an . Sumber-sumber ini menguatkan kisah dan nilai-nilai luhur Rasulullah SAW sebagai teladan umat Islam.

Diterbitkan oleh wisnuwidiarta

Hi, my name is Wisnu Widiarta. I am a movie lover and love traveling especially camping and doing outdoor activities. Coding and problem solving in general are things I love as well.

Tinggalkan komentar