Ceramah Ustad Arifin Ilham dan Ustad Ronny di Panorama Serpong

2013-08-10

Arifin

Pada hari Sabtu tanggal 2 Juni kemarin kompleks Panorama Serpong mendapat rezeki kunjungan silaturahim dari Ustad Arifin Ilham dan Ustad Ronny yang memberikan siraman rohani yang begitu bermanfaat.

Ustad Ronny memberikan tauziah sebelum Ustad Arifin Ilham datang, membawakan ceramah pentingnya keutamaan sabar dan sholat dalam mengatasi problema kehidupan. Beliau mengutip kalam Ilahi, Al Baqarah ayat 45.

QA Al - Baqaroh : 45
QS Al – Baqaroh : 45

Beliau memberikan kisah teladan sahabat Rasulullah SAW yang bernama Rabi’ah bin Ka’b al Aslamy RA.

Lebih kurang ceritanya mirip sekali dengan kisah yang dituliskan dari sini:

Rabi’ah bin Ka’b al Aslamy, atau dikenal dengan nama Abu Firas, adalah seorang pemuda dari Bani Aslam yang membaktikan dirinya sebagai salah satu pelayan Rasulullah SAW, dan ia termasuk salah seorang dari Ahli Shuffah. Ia bertugas untuk mengurus keperluan Nabi SAW pada waktu malam, termasuk ketika beliau akan shalat tahajud.

Suatu ketika seusai shalat tahajud, Nabi SAW berkata kepadanya, “Wahai Rabi’ah, mintalah sesuatu kepadaku!”

“Saya sudah cukup puas dengan bisa melayani keperluan engkau, ya Rasulullah!”

Tetapi Nabi SAW tetap menyuruhnya untuk meminta sesuatu kepada beliau. Karena terus didesak, akhirnya Rabi’ah berkata, “Ya Rasulullah, aku ingin selalu bersama (yakni, menjadi teman) engkau di surga!”

“Apakah engkau tidak memiliki permintaan yang lain lagi?” Tanya Rasulullah SAW, maksud beliau adalah sesuatu yang bersifat duniawiah, yang beliau bisa memenuhinya seketika itu.

“Tidak ada, ya Rasulullah, hanya itu yang selalu menjadi idaman saya!” Kata Rabi’ah, menegaskan.

“Baiklah,” Kata Nabi SAW, “Tetapi engkau harus menolong aku (untuk mewujudkan keinginanmu itu) dengan memperbanyak sujud kepada Allah.”

Maksudnya agar Rabi’ah memperbanyak shalat-shalat sunnah.

Dalam suatu kesempatan lainnya, Nabi SAW bertanya kepadanya, “Wahai Rabiah, apakah kamu tidak ingin menikah?”

“Demi Allah, tidak ya Rasulullah, aku tidak ingin menikah sebab aku tidak memiliki apa-apa untuk menghidupi seorang istri. Dan terutama sekali aku tidak ingin ada sesuatu yang membuatku sibuk sehingga aku tidak bisa melayani kebutuhan engkau..!!”

Nabi SAW hanya tersenyum saja mendengar jawabannya. Tetapi pada suatu pertemuan yang lain, beliau menanyakan kembali pertanyaan tersebut dan Rabi’ah masih memberikan jawaban yang sama. Tetapi setelah itu Rabi’ah berfikir sendiri, kenapa Nabi SAW menanyakan masalah tersebut sampai dua kali, akhirnya ia menyimpulkan, “Demi Allah, Rasulullah SAW lebih tahu daripada aku sendiri, apa yang lebih tepat bagiku di dunia dan akhirat. Kalau beliau menanyakan lagi masalah ini, aku akan memberikan jawaban yang lain…!!”

Ternyata memang benar, pada kesempatan berikutnya, Nabi SAW bersabda kepadanya, “Wahai Rabiah, apakah kamu tidak ingin menikah?”

Kali ini Rabiah berkata, “Baiklah, ya Rasulullah, perintahkanlah kepadaku menurut yang engkau kehendaki!!”

Nabi SAW bersabda, “Pergilah engkau kepada keluarga fulan dari kalangan Anshar, katakan kepada mereka : Sesungguhnya Rasulullah SAW mengutus aku kepada kalian agar kalian menikahkan aku (dengan putri kalian)..!”

Rabiah segera berangkat memenuhi perintah Nabi SAW, dan ia disambut dengan gembira di keluarga orang Anshar tersebut. Mereka berkata, “Marhaban kepada Rasulullah dan utusan Rasulullah, demi Allah, utusan Rasulullah tidak diperkenankan kembali kecuali keperluannya sudah dipenuhi…!!”

Mereka memperlakukan Rabiah dengan lemah lembut dan ramah tanpa banyak mempertanyakan sesuatu kepadanya, kemudian menikahkan dengan salah seorang putri mereka. Setelah beberapa waktu lamanya, Rabiah meminta ijin untuk kembali menghadap Rasulullah, dan mereka mengijinkannya.

Ketika sampai di hadapan Nabi SAW, dengan perasaan sedih, Rabiah berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah mendatangi suatu kaum yang mulia. Mereka menikahkan aku dan bersikap lemah lembut serta bersikap sangat baik tanpa menanyakan mas kawinnya. Padahal aku tidak mempunyai apa-apa untuk memberikan mas kawinnya…”

Beliau tersenyum mendengar penuturan Rabiah, dan memerintahkan seorang sahabat mengumpulkan orang-orang dari Bani Aslam, kemudian beliau bersabda, “Wahai orang-orang Aslam, kumpulkanlah dan berikanlah kepadanya (Rabiah) butir-butir emas…!!”

Dalam sekejab terkumpullah butir-butir emas yang cukup banyak, lalu beliau bersabda kepada Rabiah, “Pergilah, dan bawalah ini kepada mereka dan katakan : Ini mas kawinnya..!!”

Rabiah segera berangkat ke rumah orang Anshar yang telah menjadi mertuanya tersebut. Ia menyerahkan butiran emas sumbangan dari kaumnya sebagai mas kawinnya sebagaimana diperintahkan Rasulullah SAW. Sekali lagi mereka menyambutnya dengan lemah lembut dan gembira, dan berkata, “Cukup banyak dan sangat baik!!”

Rabiah meminta ijin untuk kembali kepada Rasulullah dan mereka mengijinkannya. Rabiah menghadap Nabi SAW dengan wajah sedih, sehingga beliau bertanya, “Wahai Rabiah, mengapa engkau (masih) kelihatan sedih..!!”

“Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihat suatu kaum yang lebih mulia dari mereka, yang rela dengan apa yang kuberikan kepada mereka, berbuat sangat baik dan berkata : Cukup banyak dan baik sekali. Padahal aku tidak mempunyai apa-apa untuk mengadakan walimah!!”

Sekali lagi Nabi SAW tersenyum mendengar penuturan Rabiah. Beliau memerintahkan para sahabat untuk  mengumpulkan beberapa domba yang besar dan gemuk. Beliau juga memerintahkan Rabiah untuk mendatangi Ummul Mukminin, Aisyah RA dan menyampaikan pesan beliau, “Hendaklah engkau mengirimkan sekeranjang makanan…!!

Rabiah bergegas ke tempat Aisyah dan menyampaikan pesan Nabi SAW, segera saja Aisyah mengeluarkan sekeranjang besar makanan dan berkata, “Keranjang ini berisi sembilan takar gandum, demi Allah tidak ada lagi selain ini. Jika kami masih mempunyai makanan lainnya selain ini, maka kamu boleh mengambilnya!!”

Rabiah membawa keranjang tersebut kepada Nabi SAW dan menyampaikan pesan Aisyah seperti itu. Beliau menyuruh Rabiah menyerahkan domba dan bahan makanan tersebut kepada keluarga Anshar mertuanya dengan diantar beberapa orang dari Bani Aslam. Sekali lagi mereka menyambut kehadiran Rabiah dengan gembira, dan mereka berkata, “Kalau roti, cukuplah kami yang mengerjakannya. Sedangkan dombanya bisa kalian yang mengerjakannya.”

Rabiah dan beberapa orang dari Bani Aslam menyembelih dan menguliti domba-domba tersebut kemudian memasaknya. Setelah semua masakan siap, mereka mengundang Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya untuk mengadakan walimah dari pernikahan Rabiah bin Ka’b ini.

Ada beberapa pesan yang bermanfaat dalam tauziah Ustad Ronny, misalnya ketika diberi sesuatu sunnahnya adalah bergembira dengan pemberian itu untuk membesarkan hati si pemberi yang telah memberikan atensinya kepada kita. Bahwa dalam menghadapi masalah jadikanlah sholat sebagai penolong kita.

Isi tauziah Ustad Arifin Ilham juga kembali menegaskan pentingnya arti masjid dalam kehidupan, bahwa banyak peristiwa besar bermula atau berkaitan dengan masjid. Dari strategi perang hingga isra mi’raj, semuanya terkait dengan masjid. Alhamdulillah pertemuan yang singkat itu juga memberikan inspirasi untuk DKM Masjid Al-Ikhlas untuk bisa berswasembada dengan usaha mandiri, seperti yang dicontohkan Ustad Arifin dengan air terionisasi Adz Dzikra dan madu yang laris manis dan bisa membiayai kehidupan pesantren dan kegiatan dakwah Adz Dzikra.

Semoga di masa mendatang banyak ustad yang datang memberikan tauziahnya kepada kami semua. Aamiiin.

Terima kasih kepada semua panitia yang sudah susah payah membantu terselenggaranya acara ini, khususon Pak Suradi yang sudah 14 tahun mengikuti dzikir Adz Dzikra ini.

Diterbitkan oleh wisnuwidiarta

Hi, my name is Wisnu Widiarta. I am a movie lover and love traveling especially camping and doing outdoor activities. Coding and problem solving in general are things I love as well.

Tinggalkan komentar