
Profil Tokoh Kita, KHR. Ali Mohammad Al Hudhaibi, S.S.I., Lc., MA. Al-Hafizh (Pendiri dan Pengasuh Pesantren Tahfizhul Qur’an Alif Lam Mim Jakarta)
Kiai Ali, atau biasa dipanggil Abah Ali Hudaibi oleh putra-putri dan santri-santrinya, memiliki nama panjang, Kiai Haji Raden Ali Mohammad Al Hudhaibi, S.S.I., Lc., MA. Al-Hafizh.
Ia lahir di kota Garut, Jawa Barat. Ayahandanya bernama, Abuya KH. Raden Deden Abdul Hakiem (Pengasuh Pondok Pesantren Sukaraja Garut). Sedangkan ibundanya bernama, Ibu Nyai Dra. Hj. Een Juhairiah, M.Pd.I.
Kiai Ali Hudaibi merupakan keturunan ulama besar Jawa Barat yang masyhur sebagai pakar Alfiyah (ilmu gramatikal bahasa Arab tingkat tinggi) dan ahli hadis Jawa Barat, yaitu KH. Raden Totoh Abdul Fatah Muhidin (Mama Raden Totoh Sukaraja).
Pendiri Pondok Pesantren Sukaraja adalah buyut beliau, seorang ulama yang tabahhur dalam berbagai bidang ilmu agama, terkhusus Alfiyah, yaitu Mama KH. Zaenal Arief, murid langsung Maha Guru Ulama Nusantara, yaitu Syaichona KH. Muhammad Cholil, Bangkalan, Madura. Dari sanalah Mama KH. Zaenal Arif membawa Ilmu Gramatikal bahasa Arab tingkat tinggi itu ke Garut dan kemudian mendirikan Pesantren Alfiyah Sukaraja di sana. Dari pesantren inilah banyak lahir para ulama yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren di Jawa Barat.
Saat ini Pondok Pesantren Sukaraja diteruskan oleh cicitnya (generasi ke-4), yaitu Abuya KH. Raden Deden Abdul Hakiem (Ayahanda Kiai Ali Hudaibi).
Garis keturunan Kiai Ali Hudaibi sampai kepada penyebar-penyebar Islam di Jawa Barat, di antaranya; (1) Dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan keturunan ke-12. (2) Dari Syekh Nuryayi (Mbah Nuryayi) Suci keturunan ke-11. (3) Dari Syekh Ja’far Shiddiq (Sunan Haruman) Cibiuk Limbangan keturunan ke-10. (4) Dari Sayyidil Habib ‘Abdullah bin Muhsin al-‘Atthas (Habib Keramat Empang Bogor) keturunan ke-7. (5) Dari Syekh Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Cirebon keturunan ke-17.
Beliau memiliki seorang istri bernama, Nyai Siti Mu’awanah, S.Sos., Lc., M.Sos., dan empat anak bernama, Rd. Fawwaz Fajrurrahman Hakiem, Rd. Mumtaz Hakiem Mubarak, Rd. Sahnaz Sayeda Auliya Hakiem, dan Rd. Zemyta Difla Iklila. Kini ia tinggal di daerah Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Pendidikan dasarnya dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) al-Khoiriyyah Garut, Jawa Barat. Selain sekolah formal di sekolah tersebut, ia juga mulai diperkenalkan sejak dini oleh orang tuanya tentang ilmu-ilmu kepesantrenan, seperti ilmu Nahu, Saraf, fikih, dan lainnya di pesantren yang diasuh dan dikelola sendiri oleh orang tuanya.
Setamatnya dari sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan menengah pertamanya di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sunan Pandanaran Yogyakarta hingga menengah atasnya, yaitu Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Sunan Pandanaran di almamater yang sama. Selain itu, ia juga berkesempatan langsung mulāzamah dan menimba ilmu dari pendiri dan pengasuh Pesantren tersebut, yaitu Hadhratussyekh Romo KH. Muhammad Mufid Mas’ud Al-Hafizh, khususnya tahfizh Al-Qur’an. Kepada beliau ia mengkhatamkan seluruh hafalan Al-Qur’annya.
Setamatnya dari sana, ia melanjutkan pendidikan Strata Satu (S1) di Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengambil Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI). Dan pada saat yang sama, ia juga menimba ilmu di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Ciputat, asuhan (alm) Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Kepada ahli hadis tersebut, ia belajar langsung dan mengkhatamkan banyak kitab, di antaranya; kutub as-sittah, tadrīb ar-Rāwī, thuruq fahm al-hadīts, takhrīj wa dirāsat al-asānīd, dan pustaka-putaka ilmu keagamaan lainnya, khususnya hadis dan ilmu hadis. Ia lulus dari Darus-Sunnah dengan predikat, al-fāiz al-awwāl; terbaik pertama.
Kemudian ia melanjutkan Strata Dua (S2) di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta mengambil konsentrasi Ulumul Qur’an dan Ulumul Hadis. Ia lulus dari IIQ Jakarta dengan predikat Cum Laude dan dinyatakan sebagai wisudawan terbaik serta mendapat penghargaan sebagai mahasiswa teladan untuk tingkat Pascasarjana IIQ Jakarta 2014.
Selain itu, ia juga banyak mendapat ijazah kitab dan hadis dari para ulama, di antaranya kitab al-Muwaththā’ karya Imam Mālik bin Anas (w. 179 h) dari Syekh Dr. Muhammad bin ‘Abd ar-Razzāq Aswad (Damam, Saudi Arabia), kemudian al-Arba’īn Hadītsan al-Nawawiyyah karya Imam an-Nawawī (w. 676 h), al-Hadīts al-Musalsal bi al-Mahabbah, al-Hadīts al-Musalsal bi al-Awwaliyyah dari Syekh Dr. Hisyām Kāmil Mūsā asy-Syāfi’ī al-Azharî (Mesir), kemudian Bulūgh al-Marām min Adillah al-Ahkām karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalānī (w. 852 h) dari Syekh Maulānā asy-Syarīf Dr. dr. Yusrī Rusydī al-Sayyid Jabr al-Hasanī (Mesir) dan Syekh KH. Ahmad Marwazie al-Batawie; murid langsung Syekh Muhammad Yāsīn bin ‘Īsā al-Fādānī al-Makkī (w. 1410 h); dari beliau juga penulis banyak mendapat sanad hadis musalsal, kemudian al-Arba’īn al-Ghumāriyyah fī Syukr an-Ni’am dari al-Muhaddits Syekh Dr. ‘Abd al-Mun’im bin ‘Abd al-‘Azīz al-Ghumārī (Maroko), kemudian asy-Syamā’il al-Muhammadiyyah karya Imam al-Tirmidzī (w. 279 h) dari Syekh Dr. Amīn Sālim al-Kurdī (Amīn al-Fatwā Libanon), kemudian beberapa hadis musalsal dan kitab-kitab hadis dari Syekh Dr. Yāsir al-‘Adnī as-Suhairī al-Yamānī (Ahli hadis, Qadhi, dan Rektor Dār al-Hadīts li al-Irts an-Nabawī, Tarim, Yaman).
Juga beberapa ijazah wirid dan selawat, di antaranya Dalā’il al-Khairāt wa Syawāriq al-Anwār fī ash-Shalāt ‘alā an-Nabiy al-Mukhtār karya Imam Muhammad bin Sulaimân al-Jazūlī (w. 870 h), Hizb an-Nashar (Hizb al-Saif) karya Imam Abū al-Hasan al-Syādzilī (w. 656 h), dan beberapa ijazah selawat, seperti Tunjīna, Kāmilah, Thibb al-Qulūb, Ilqa’ al-Ru’b, Ibrāhāmiyyah, Qamar al-Wujud, al-Fātih dari KH. Muhammad Mufid Mas’ud al-Hāfizh (Yogyakarta); kemudian Rātib al-Haddād karya al-Habīb ‘Abdullāh bin ‘Alwī al-Haddād (w. 1132 h) dan wirid al-Asmā’ al-Husnā dari Dr. KH. Mu’tashim Billah (Yogyakarta); kemudian Hizb al-Bukhārī karya Imam al-Bukhārī (w. 256 h) dari Syekh KH. Achmad Chalwani Nawawi (Mursyid TQN dari Purworejo, Jawa Tengah); Aurād al-istighfār wa ash-shalawāt wa at-tahlīl dari Syekh Prof. Dr. Wahbah Musthafā az-Zuhailī (Syiria) dan Syekh Maulānā asy-Syarīf Prof. Dr. dr. Yusrī Rusydī al-Sayyid Jabr al-Hasanī (Mesir), dan al-Manzhūmah al-Baiquniyyah dan hadis-hadis musalsal dari Syekh Dr. Yāsir al-‘Adnī al-Suhairī (Yaman).
Semenjak menimba ilmu di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, ia telah banyak menorehkan prestasi, khususnya di bidang khithābah dan musābaqah hifzh al-Qur’ān (mulai dari 1 juz tilawah, 5 juz tilawah, 10 juz, 20 juz, 30 juz, hingga tafsir Indonesia 30 juz). Hal itu telah ia ikuti mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional, dan tak jarang mendapat peringkat pertama.
Adapun semenjak menimba ilmu di Darus-Sunnah, ia pernah mendapat kepercayaan dari (alm) Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. untuk berdakwah di Papua dan Malaysia. Safari dakwah di Papua sudah dilakukannya sebanyak lima kali. Ia juga 4 kali berturut-turut mendapat undangan safari dakwah dan imam selama Ramadan di Toronto, Kanada, Amerika Utara. Undangan tersebut datang dari Canadian Centre for Deen Studies dan Sayeda KHADIJA Centre pimpinan Syekh Hamid Slimi dan Istiqlal Islamic Centre Toronto.
Saat ini, selain aktif sebagai dosen ‘ulūm al-hadīts, ‘ulūm al-Qur’ān, ilmu tafsir, ilmu tajwid, tahfizh Al-Qur’an, dan Akidah di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, Ciputat, ia juga mengajar tafsir ayat ahkam dan tahfizh Al-Qur’an di Madaris Darus Sunnah Ciputat, ia juga mengajar tahfizh Al-Qur’an, ilmu tajwid, hadis dan ilmu hadis di Yayasan Pesantren Raudhatul Makfufin Pamulang, juga tercatat sebagai Pembina Yayasan Pesantren Sukaraja Garut, dan Ketua Komite Sekolah Menengah Kejuruan Plus Sukaraja Garut, ia juga menjadi imam tetap di Masjid Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan imam serta khathib di beberapa masjid sekitar Jabodetabek, juga mengajar hadis beberapa majelis taklim sekitar Jabodetabek, ia juga mendirikan majelis khusus para penghafal Al-Qur’an yang diberi nama, Majelis Alif Lam Mim li Tahfizhil Qur’anil Karim, Majelis Taklim Alif Lam Mim, dan Pesantren Tahfizhul Qur’an Alif Lam Mim yang berlokasi di Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Karya tulisnya yang sudah terpublikasi: Catatan Dakwah di Kanada (2017), Lembaga Penghapus Dosa (2017), Mutiara Cinta dari Sang Mustafa; Nasihat Pernikahan untuk Adik Tercinta (2018), Sejarah Terminologi-terminologi dalam Ilmu Hadis (2022), 40 Hadis untuk Pelajar dan Penghafal Al-Qur’an (Dilengkapi Metode Menghafal Al-Qur’an, Hal-hal yang Harus Dihindari oleh Para Penghafal Al-Qur’an, dan Wejangan-wejangan dari Ulama Al-Qur’an (2023), Nabi Kita Muhammad SAW (terjemah, 2023).
Beliau juga rutin mengisi kajian kitab kuning di Masjid Al-Ikhlas, Perumahan Panorama Serpong, setiap pekan ke-4.